PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH TENTANG PENDIDIKAN (Tujuan, Pendidik, Peserta Didik, Kurikulum, Metode, Evaluasi)

 

PEMIKIRAN MUHAMMAD ABDUH TENTANG PENDIDIKAN

(Tujuan, Pendidik, Peserta Didik, Kurikulum, Metode, Evaluasi)

A.   Pendidik

Mengenai pendidik, Muhammad Abduh menyatakan bahwa hendaknya seorang pendidik mempunyai akhlak yang baik (akhlak mahmudah), bahkan dianjurkan agar meneladani sifat-sifat yang dimiliki Rasulullah, selain itu guru juga harus mempunyai akidah yang baik, bijaksana, berani, dan energik, sehingga dapat melaksanakan tugasnya.

B.   Peserta Didik

Muhammad Abduh berpendapat bahwa setiap individu memiliki potensi fitrah yang baik. Manusia dalam hal ini anak didik dilahirkan dengan memiliki potensipotensi. Muhammad Abduh menyatakan potensi bawaan (fitrah) ada yang bersifat aqliyah dan ada yang bersifat nafsiyah. Fitrah nafsiyah atau ilahiyah manusia sesungguhnya adalah sama, tetapi fitrah aqliyah mereka dapat berbeda. Di antara potensi-potensi lahiriyah (bawaan) manusia, khususnya potensi aqliyahnya tidak berkembang begitu saja tanpa ada proses pendidikan. Artinya, potensi aqliyah tidak berfungsi sempurna tanpa adanya proses pendidikan.

C.   Tujuan Pedidik

Bagi Muhammad Abduh, tujuan pendidikan adalah mendidik akal, jiwa dan spiritual sehingga memungkinkan seseorang mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Dari tujuan pendidikan di atas, Muhammad Abduh tampaknya berkeinginan agar proses pendidikan dapat membentuk kepribadian muslim yang seimbang antara jasmani dan rohani serta intelektualitas dan moralitas. Bagi Muhammad Abduh pendidikan bukan hanya bertujuan mengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tapi juga harus menyelaraskan dengan aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan), pendidikan seyogianya dapat memerhatikan segi material dan spiritual manusia sekaligus.

D.   Kurikulum

  1. 1)      Tingkat sekolah dasar

Kurikulum tingkat sekolah dasar diberikan mata pelajaran: membaca, menulis, berhitung, pelajaran agama dan sejarah. Pelajaran agama meliputi akidah, serta fikih dan akhlak yang berkaitan dengan halal dan haram, perbuatan-perbuatan bid’ah serta bahayanya dalam masyarakat. Pelajaran akhlak mencakup perbuatan-perbuatan dan sifatsifat yang baik dan buruk. Sedangkan pelajaran sejarah mencakup sejarah Nabi Saw. dan para sahabat, akhlak mereka yang mulia, serta jasa mereka terhadap agama. Diperkenalkannya juga sebab-sebab Islam dapat berkuasa dalam waktu yang relatif singkat, sejarah Nabi Saw., dan sahabat ditambah dengan uraian-uraian tentang khalifah Ustmaniyah yang kesmuanya diberikan secar ringkas.

  1. 2)      Tingkat sekolah menengah

Kurikulum tingkat sekolah menengah diberikan mata pelajaran: mantik atau logika, akidah, fikih, dan akhlak, dan sejarah Islam. Pelajaran akidah dikemukakan dengan pembuktian akal dan dalil-dalil yang pasti. Pada tingkat ini pelajaran yang diberikan belum menjangkau perbedaan pendapat. Di samping itu, di jelaskan fungsi akidah dalam kehidupan. Sedang fikih dan akhlak isinya memperluas bahan yang diberikan pada tingkat dasar, dengan menekankan pada sebab, kegunaan, dan pengaruh, terutama dalam masalah akhlak. Misalnya kegunaan berakhlak baik dan pengaruhnya dalam kehidupan bermasyarakat. Pelajaran fikih lebih ditekankan pada hukum-hukum agama dan kegunaannya dalam kehidupan bermasyarakat.

  1. 3)      Tingkat sekolah atas

kurikulum tingkat atas diperuntukkan bagi mereka yang akan menjadi pendidik yang disebutnya sebagai golongan yang arif (urafa al-ummat). Pelajaran yang diberikan kepada mereka mencakup: tafsir, hadis, bahasa Arab, akhlak, ushul fiqh, sejarah, retorika, dan ilmu kalam. Di sini, sejarah yang termasuk di dalamnya sejarah Nabi Saw. Dan sahabat diuraikan lebih rinci. Sejarah peralihan penguasa-penguasa Islam, sejarah kerajaan Utsmaniyah dan sejarah jatuhnya kerajaankerajaan Islam ke tangan penguasa lain dengan menerangkan sebabsebabnya. Adapun ilmu kalam pada tingkat ini diberikan dengan menjelaskan dalil-dalil yang menopang pendapat setiap aliran. Pada tingkat ini pelajaran ilmu kalam tidak ditujukan untuk memperteguh akidah, namun untuk memperluas cakrawala pemikiran.

E.    Metode

Dalam metode pembelajaran, Muhammad abduh lebih menekankan dengan metode diskusi, penelitian dan penalaran di bandingkan dengan metode hafalan. Metode pengajaran dengan metode diskusi adalah metode pengajaran yang di dapatkannya ketika berguru dengan Jamaluddin AlAfgani, metode pengajaran yang di gunakan oleh jamaluddin al-afgani adalah metode yang mengutamakan pemberian pengertian dengan cara diskusi. Metode ini tampaknya yang di terapkan muhammad abduh setelah ia menjadi pendidik.

F.    Evaluasi

Menurut pandangan Muhammad Abduh, Pendidikan baginya bukan hanya bertujuan mengembangkan aspek kognitif (akal), tetapi juga perlu menyelaraskan dengan aspek afektif (moral) dan psikomotorik (keterampilan). Oleh sebab itu, pada setiap proses pembelajaran memerlukan sebuah evaluasi pendidikan yang merupakan suatu hal yang sangat penting dalam pendidikan, terutama dalam proses belajar mengajar, Karena dengan adanya evaluasi pendidik akan mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pemahaman yang dimiliki oleh setiap peserta didik, dikarenakan, ada peserta didik yang lebih cepat untuk memahami materi dalam pembelajaran, dan ada juga yang tidak, oleh sebab itulah seorang pendidik perlu melakukan evaluasi terhadap peserta didiknya.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAKIKAT PENDIDIKAN DAN HAKIKAT KURIKULUM PENDIDIKAN

Pemikiran K. H. Hasyim Al-asy’ari Tentang Pendidikan (Pendidik, Peserta Didik, Kurikulum, Tujuan Pendidik, Metode dan Evaluasi)

PEMIKIRAN PENDIDIKAN KONTEMPORER DI INDONESIA (Perguruan Tinggi: Lembaga, Tujuan, Pendidik, Peserta Didik, Kurikulum, Metode, Evaluasi)