PEMIKIRA ITELEKTUAL MUSLIM TENTANG PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PEMIKIRAN AL-GHAZALI TETANG PENDIDIKAN (Pendidik, Peserta Didik, Tujuan, Kurikulum, Metode dan evaluasi)

Nama: Natasya Fhonna

Nim: 202021029

Unit: 1 PAI/ Semester 4

Tugas: Resume pertemuan

 

PEMIKIRA ITELEKTUAL MUSLIM TENTANG PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PEMIKIRAN AL-GHAZALI TETANG PENDIDIKAN

(Pendidik, Peserta Didik, Tujuan, Kurikulum, Metode dan evaluasi)


A.    Pendidik

Al Ghazali memberikan tempat terhormat terhadap profesi mengajar. Ini berdasarkan Al-Quran dan al-Hadits yang menjelskan bahwa profesi mengajar merupakan tugas yang paling utama dan mulia.  Dalam kitab ihya’ ‘ulumuddin sendiri telah menyejajarkan para pendidik dengan deretan para Nabi. Al-Ghazali memberikan prasyarat yang harus dimiliki pendidik:

1)      Pendidik harus mempunyai sifat kasih sayang terhadap anak didik;

2)      Pendidik harus melakukan aktifitas karena Allah Swt;

3)      Pendidik harus mampu memberi nasehat yang baik kepada anak didik;

4)      Pendidik harus mampu mengarahkan anak didik kepada hal-hal yang positif dan mencegah mereka melakukan aktifitas destruktif;

5)      Mengenali tingkat nalar dan intelektualitas anak didik;

6)     Pendidik harus mampu menumbuhkan kegairahan anak didik terhadap ilmu yang dipelajarinya;

7) Pendidik harus mampu mengidentifikasi usia anak didik sehingga bisa memberikan ilmu pengetahuan sesuai dengan perkembangan kejiwaannya;

8)      Pendidik harus mampu memberikan teladan kepada anak didiknya

 

B.     Peserta didik

Menurut Al-Ghazali, peserta didik yang dimaksud ialah murid. Beliau menguraikan hal-hal yang harus dipenuhi murid dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:

1)      Belajar merupakan proses jiwa.

Pada hakikatnya, yang wajib belajar adalah murid sedangkan guru bertugas membimbingnya, berperan sebagai penunujuk jalan dalam belajar.

2)      Belajar menuntut konsentrasi.

Sesuai dengan pandangan Al-Ghazali tentang tujuan pendidikan yakni mendekatkan diri pada Allah, dan itu tidak akan terwujud kecuali dengan mensucikan jiwa serta melaksanakan ibadah kepada- Nya.

3)      Belajar harus didasari sikap tawadhu

Berkaitan dengan tugas murid dalam kegiatan belajar mengajar, Al Ghazali menasehatkan agar murid mempunyai sikap tawadhuk dan merendahkan diri terhadap ilmu dan guru.

4)      Belajar bertukar pendapat hendaklah telah mantap pengetahuan dasarnya.

Al-Ghazali menasihatkan kepada murid agar tidak melibatkan diri dalam perdebatan atau diskusi tentang segala ilmu pengetahuan baik yang bersifat keduniaan maupun keakhiratan.

5)      Harus mengetahui nilai dan tujuan pengetahuan yang dipelajari.

6)      Belajar secara bertahap.

7)      Tujuan belajar untuk berakhlakul karimah.

 

C.    Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan menurut alGhazali mencakup tiga aspek, yaitu aspek kognitif, yang meliputi pembinaan nalar, seperti kecerdasan, kepandaian, dan daya pikir; aspek apektif, yaitu meliputi pembinaan hati, seperti pegembangan rasa, kalbu, dan rohani; dan aspek psikomotorik, yaitu pembinaan jasmani, seperti kesehatan badan dan keterampilan. Al-Ghazali secara eksplisit menempatkan dua hal penting sebagai orientasi pendidikan; pertama, mencapai kesempurnaan manusia untuk secara kualitatif mendekatkan diri kepada Allah Swt; kedua, mencapai kesempurnaan manusia untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Menurut al-Ghazali kebahagiaan dunia dan akhirat merupakan sesuatu yang paling esensi bagi manusia. Kebahagiaan dunia dan akhirat memiliki nilai universal, abadi, dan lebih hakiki. Sehingga pada akhirnya orientasi kedua akan sinergis bahkan menyatu dengan orientasi yang pertama. Konsep al-Ghazali ini menarik jika dikaitkan dengan konsepsi pendidikan mutakhir. Al-Ghazali merumuskan orientasi pendidikan secara makro dan berupaya menghindar dari problematika yang bersifat situasional. Shingga konsepsi al-Ghazali tersebut dapat dikatakan sebagai “ujung orientasi” (al-ahdâf al- ‘ulya) yang dapat dijabarkan ke dalam orientasi-orientasi yang lebih spesifik, yakni orientasi (intruksional) umum dan orientasi khusus.

D.    Kurikulum

Dalam menyusun kurikulum pelajaran, Al-Ghazali memberi perhatian khusus pada ilmu-ilmu agama dan etika sebagaimana dilakukannya terhadap ilmu-ilmu yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, ia mementingkan sisi yang faktual dalam kehidupan, yaitu sisi yang tak dapat tidak harus tetap ada. Selain itu AlGhazali juga menekankan sisi-sisi budaya. Ia jelaskan kenikmatan ilmu dan kelezatannya.

 Menurutnya ilmu itu wajib dituntut bukan karena keuntungan diluar hakikatnya, tetapi karena hakikatnya sendiri. Sebaliknya, Al-Ghazali tidak mementingkan ilmu-ilmu yang berbau seni atau keindahan, sesuai dengan sifat pribadinya yang dikuasai yaitu tasawuf dan zuhud. Disisi lain, sekalipun Al-Ghazali menenkankan pentingnya pengajaran berbagai keahlain esensial dalam kehidupan dan masyarakat, tetapi ia tidak menekankan pentingnya keterampilan.

Dari sifat dan corak ilmu-ilmu yang dikemukakan di atas, terlihat dengan jelas, bahwa mata pelajaran yang seharusnya diajarkan dan masuk kedalam kurikulum menurut Al-Ghazali didasarkan pada dua kecenderungan sebagai berikut:

1)  Kecenderungan agama dan tasawuf. Kecenderungan ini membuat Al-Ghazali menempatkan ilmu-ilmu agama diatas segalanya, dan memandangnya sebagai alat untuk mensucikan diri dan memebersihkannya dari pengaruh kehidupan dunia. Dengan kecenderungan ini, maka Al-Ghazali sangat mementingkan pendidikan etika, karena menurutnya ilmu bertalian erat dengan pendidikan agama.

2)   Kecenderungan pragmatis. Kecenderungan ini tampak dalam karya tulisnya. AlGhazali beberapa kali mengulangi penilaiannya terhadap ilmu berdasarkan manfaaatnya bagi manusia, baik untuk kehidupan di dunia, maupun untuk kehidupan di akihrat. Ia juga menjelaskan bahwa ilmu netral yang tak digunakan pemiliknya bagi hal-hal yang bermanfaat bagi manusia sebagai ilmu yang tak bernilai.

Kurikulum yang diajukan Al-Ghazali ini mendorong kita untuk mengaitkan pada kurikulum yang disusun oleh Herbert Spenser, seorang filosof berkebangsaan Inggris yang muncul pada pengujung abad ke XIX. Dalam sejarah pemikiran tercatat, bahwa Spenser termasuk filosof dan pendidik awal yang berpikir langsung pada prinsif-prinsif tertentu serta sejalan dengan tujuan pendidikan yang telah digariskan yang sejalan dengan filsafatnya.

E.     Metode

Perhatian Al-Ghazali dalam bidang metode ini lebih ditunjukkan pada metode khusus bagi pengajaran agama untuk anak-anak. Untuk ini ia telah mencontohkan sebuah metode keteladanan bagi mental anak-anak, pembinaan budi pekerti dan penanaman sifatsifat keutamaan pada diri mereka. Perhatian Al-Ghazali akan pendidikan agama dan moral ini sejalan dengan kecendrungan pendidikannya secara umum, yaitu prinsif-prinsif yang berkaitan secara khusus dengan sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam melaksanakan tugasnya.

Hal ini mendapatkan perhatian khusus dari al-Ghazali, karena berdasar pada prinsipnya yang mengatakan bahwa pendidikan adalah sebagai kerja yang memerlukan hubungan yang erat antara dua pribadi, yaitu guru dan murid. Dengan demikian faktor keteladanan yang utama menjadi bagian dari metode pengajaran yang amat penting. Tentang pentingnya keteladanan utama dari seorang guru tersebut diatas, juga dikaitkan dengan pandangannya tentang pekerjaan mengajar. Menurutnya mengajar adalah pekerjaan yang paling mulia dan sekaligus sebagai tugas yang paling agung. Pendapatnya ini, ia kuatkan dengan beberapa ayat Alquran dan hadist Rasulullah Saw., serta pengulangan berkali-kali tentang tingginya status guru yang sejajar dengan tugas kenabian. Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan bahwa wujud yang termulia dimuka bumi ini adalah manusia, dan bagian inti manusia yang termulia adalah hatinya. Guru bertugas menyempurnakan, menghias, mensucikan dan menggiringnya mendekati Allah Swt.

Dengan demikian, mengajar adalah bentuk lain pengabdian manusia kepada Tuhan dan menjunjung tinggi perintah-Nya. Menurut Allah telah menghiasi hati seorang alim dengan ilmu yang merupakan sifat-Nya yang paling khusus. Seorang alim adalah pemegang khas, ia bukan pemilik khas dalam system perbendaharaan. Ia dibenarkan berbelanja dengan uang untuk siapa saja yang memerlukannya. Kiranya tidak ada lagi martabat yang lebih tinggi dari pada sebagai perantara antara Tuhan dengan makhluk-Nya dalam mendekatkannya kepada Allah, dan menggiringnya kepada surga tempat tinggal tertinggi.

F.     Evaluasi

Pendapat al-Ghazali mengenai evaluasi agak aneh, memang, terutama bagi orang yang terbiasa menghadapi evaluasi melalui kertas dan pensil dengan item-item yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Evaluasi al-Ghazali adalah evaluasi melalui hidup dengan segala cobaan, bukanlah pendidikan itu kehidupan, seperti kata John Dewey, “bukan sekedar persiapan untuk hidup”. Kalau ia adalah kehidupan, maka orang yang menghadapi evaluasi dalam pendidikan haruslah betul-betul muncul dari kehidupan itu. Misalnya ujian statistik di perguruan tinggi tidak boleh direkayasa secara artificial, dengan tujuan menggagalkan sekian persen peserta yang ikut ujian itu.

Sebaliknya ujian itu harus direkayasa dari situasi sebenarnya, dan untuk menjawabnya jiga bisa buku-buku, malah kalau perlu ujian diadakan di perpustakaan sehingga kalau lupa satu formula, dalam statistic misalnya, bisa pergi membaca sederatan buku statistic yang ada diperpustakaan. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari kita, sebenarnya, tidak pernah menghafal formula, dan kehidupan juga tidak menuntut kita menghafal formula-formula itu, yang dituntutnya ialah menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Cara terakhir ini memang kita baca dalam karya-karya al-Ghazali dan pemikirpemikir Islam yang semasa mengenai evaluasi. Tidak ada bukti lebih tegas apakah konsepsi evaluasi ini lebih baik dari peristiwa-peristiwa pemberian ijazah sebagai penutup dari suatu tahap pendidikan.Ijazah itu sendiri dalam bahasa Arab berarti si murid telah diberi izin untuk mengajarkan ilmu yang telah diterimanya dari guru-gurunya.Upacara ini tidak disertai segulung kertas tanda lulus mendapat title Drs. Ir. SH. Dan lain-lain. Ia hanya disertai upacra sederhana, yaitu pemindahan sorban dari kepala seorang syeikh, katakana syeikh tafsir, kepada kepala seorang muridnya yang dipercayainya bisa menjarkan tafsir itu kepada orang lain. Suatu evaluasi yang betul-betul timbul dari kehidupan sebenarnya.

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HAKIKAT PENDIDIKAN DAN HAKIKAT KURIKULUM PENDIDIKAN

Pemikiran K. H. Hasyim Al-asy’ari Tentang Pendidikan (Pendidik, Peserta Didik, Kurikulum, Tujuan Pendidik, Metode dan Evaluasi)

PEMIKIRAN PENDIDIKAN KONTEMPORER DI INDONESIA (Perguruan Tinggi: Lembaga, Tujuan, Pendidik, Peserta Didik, Kurikulum, Metode, Evaluasi)